5 Alasan Mengapa Ada Orang Cerdas di Sekitar Kita yang Tidak Dikenal Cerdas?

5 Alasan Mengapa Ada Orang Cerdas di Sekitar Kita yang Tidak Dikenal Cerdas?

5 Alasan Mengapa Ada Orang Cerdas di Sekitar Kita yang Tidak Dikenal Cerdas?

 

Teman saya Pak Ari Yanto ditanya, “Sebenarnya apa yang terjadi di sekitar kita, mengapa ada orang cerdas yang tidak dikenal cerdas?” Berikut jawaban pak Ari Yanto.

Klasifikasi Kecerdasan

“Bagaimanapun, saya bukan berlatar belakang psikologi, hanya saja saya tertarik dengan topik seputar pendidikan, plus pengalaman ‘serabutan’ di berbagai bidang. Jadi, saya mohon maaf jika jawaban saya ini tidak dapat memenuhi keinginan dari penanya.

9 Tipe Kecerdasan

Berangkat dari klasifikasi kecerdasan dulu, dikatakan bahwa ada 9 tipe kecerdasan :

  1. naturalist
  2. logical
  3. existential
  4. linguistic
  5. musical
  6. kinesthetic
  7. visual-spatial
  8. interpersonal
  9. intrapersonal).

3 Tipe Kecerdasan

Tetapi ada juga yang bilang bahwa ada 3 jenis kecerdasan :

  1. IQ
  2. EQ
  3. SQ

Dugaan saya kenapa ada berbagai penggolongan kecerdasan karena mungkin kriteria penggolongannya berbeda.

Orang Cerdas Kenapa Terlihat Tidak Cerdas?

Tetapi, menurut pendapat saya pribadi, ada beberapa alasan mengapa seseorang yang harusnya cerdas itu tidak terlihat cerdas.

(1.) Karena Tidak Mau Terlihat Cerdas

Di animé Naruto, ada ninja bernama Shikamaru. Shikamaru ini memiliki kemampuan fisik rata-rata saja, tetapi memiliki kemampuan analisis yang paling hebat di seluruh desa ninja Konoha. Namun, tidak banyak yang mengetahui kalau si Shikamaru ini sungguh jenius, sampai ketika ia mengikuti ujian naik level di dunia per-ninja-an.

Sehari-harinya, di sekolah ninja, Shikamaru dikenal sebagai bocah yang cuek dan suka tertidur, sehingga seringkali dihukum oleh guru ninja.

Akibatnya, ya jelas saja, kepintarannya tidak terlihat.

Jadi, apa hubungannya?

Seseorang tidak mau (atau tidak bisa) terlihat cerdas karena MALAS. Rasa malas ini bisa disebabkan karena banyak hal. Bisa karena kondisi finansial yang sudah mencukupi, sehingga tak ada urgency untuk berpikir keras. Di satu sisi, rasa malas ini juga bisa bersumber dari kekecewaan. Ketika saya masih mengajar di sekolah, ada satu murid yang dapat nilai 85 (saya sangat mudah memberi nilai 60, tetapi di atas 80 itu sangat susah), dan orangtuanya bilang apa? ‘masa kamu cuma dapat 85?‘. OK, lalu singkat kata anak ini dapat 92 di tes saya selanjutnya. Dan orangtuanya bilang apa? ‘oh sayang ya dapat 92, padahal tinggal sedikit lagi kamu bisa 100..‘ Waktu itu saya sudah memperingatkan orangtuanya, tetapi orangtuanya malah memarahi saya dan membandingkan anak tersebut dengan adiknya, yang bisa dapat 100 dengan mudah. Saya hanya menjawab diplomatis, ya itu karena tingkat kesulitannya memang berbeda. Tetapi, jawaban saya ditolak oleh orangtuanya, dengan argumen bahwa adiknya memang lebih pintar. OK, nah kita lanjut lagi. Singkat kata, setelah insiden adu argumen antara saya dengan orangtuanya, anak itu sudah tidak pernah mendapat nilai bagus lagi. Kadang 60, kadang 50, kadang 65, sekitar segitulah. Saya tahu ia mampu, tapi ya dia sudah tidak mau lagi. Yasudalah, saya sudah peringatkan orangtuanya, tetapi tidak diindahkan. 2 tahun kemudian, ketika adiknya ‘ketemu’ saya, nilai tertingginya dalam 1 semester ‘hanya’ 78. Saya hanya bilang, ingat perkataan saya 2 tahun lalu? Sebetulnya kakaknya lebih pintar, tapi anda tidak memberikan apresiasi. Sekarang adiknya yang dibanggakan hanya segini saja. Ya orangtuanya menjawab bahwa soalnya sengaja dipersulit. Tapi saya bilang tidak ; dari 4 kali tes, 1 soal itu sama persis dengan soal 2 tahun lalu ketika kakaknya tes, dan dia bisa dapat lebih dari adiknya. Lalu orangtua itu lapor ke kepala sekolah, dia bilang kalau saya bilang anaknya bodoh. Yasudalah, omongan itu kan doa kan yah……

Nah, tadi disebutkan bahwa rasa malas bisa berasal dari kekecewaan. Di dunia kerja juga bukannya tak mungkin ada orang yang cemerlang lalu kehilangan kecemerlangannya karena kecewa. Biasanya, orang ini menjadi kecewa karena si bos pilih kasih, misalnya dengan karyawan tipe penjilat atau penggoda. Bisa juga karena buah pikiran sang karyawan yang cerdas tadi ‘dicuri’ oleh rekan kerjanya atau yang paling parah diakui sebagai hasil karya si atasan itu sendiri. Ya bagaimana lagi, karena kecewa akhirnya kerja asal kerja sajalah. Yang penting datang on time, pulang juga on time ; ekspektasi kontribusi minimum terpenuhi, yasudah. Nikmati hidup saja sisanya. Tak perlu menonjol.

Penyebab lainnya juga ada beberapa, mulai dari patah hati (ya pada dasarnya kecewa juga sih yah…..) sampai malas yang tidak perlu alasan. Atau, memang karena merasa tidak perlu menunjukkannya. Nah ini yang menyebabkan kecerdasan seseorang tidak muncul.

 

(2.) Kecerdasan Yang Tidak Dapat Diukur

Idealnya, kecerdasan seharusnya bisa diukur secara kuantitatif. Ya masalahnya memang tidak semua karakteristik (property) bisa diukur secara kuantitatif. Ini agak out of topic, tetapi saya akan ambil contoh sebagai tingkat kepedasan suatu makanan. Mengukur tingkat kepedasan makanan itu sulit.

Secara kualitas, makanan pedas itu sifatnya bisa agak pedas, cukup pedas, pedas banget, pedas hampir mati, dll. Tetapi, ada unsur subyektivitas di sini. Alternatif kedua, dengan random sampling. Beberapa responden (semakin banyak makin bagus) akan diberik kesempatan mencicipi makanan pedas, lalu diberikan kuisioner untuk diisi, makanan tersebut pedasnya level berapa. Skala tingkat kepedasan ini bisa antara 0 – 5, 0 – 10, 0 – 12, terserah kepada si pembuat kuisioner. Nah, di sini ada pengubahan dari unsur kualitas (pedas banget, sedikit pedas, dll) ke unsur numerik tadi. Kita sebut bahwa tingkat kepedasannya dikuantisasi, dijadikan angka. Hasil yang didapat akan dirata-rata. Nah, tentunya bagi yang suka pedas akan berpikir bahwa makanan dengan skala 9/10 itu cocok untuknya, demikian pula dengan yang tidak kuat pedas mungkin hanya memilih maksimal 3/10, misalnya. Jadi, akurasinya lumayan lah. Ya memang mungkin akan ada yang kecewa, seperti pesan yang level 2/10 eh tapi tetap kepedasan juga ya nasib, hanya saja secara umum cukup memuaskan lah yah. Alternatif ketiga, dengan metode kuantitatif murni. Makanan tersebut diambil sampelnya sekian gram, dianalisis kadar capsaicin (senyawa kimia yang bertanggungjawab terhadap rasa pedas), lalu dianalisis, kadarnya ada berapa ppm. Metode terakhir ini adalah metode paling akurat (walau masih bisa salah juga sih, tapi jika dibahas akan jadi panjang), karena kalau dikatakan bahwa makanan pedas ini kadar capsaicin-nya sekian ppm yasudah, tinggal bayangin sendiri. Tapi sangat sukar dibantah.

Baca Juga:  JUAL CABE BUBUK "AINA"

Begitu juga dengan mengukur kecerdasan. Tidak semuanya dapat diukur secara numerik, apalagi pure quantitative. Akibatnya, akurasi dari tes kecerdasan bisa dipertanyakan. Padahal, kecerdasan itu sendiri ada banyak macamnya. Bukan hanya masalah ‘rasa pedas’ yang hanya satu jenis rasa saja.

bermacam-macam tipe kecerdasan

Nah, sekarang yang sama-sama di musical intelligence deh, contohnya. Bagaimana bisa menilai seorang penyanyi itu ‘cerdas’ atau tidak? Apa instrumen penilaiannya? Pakai kuisioner? Bagaimana jika yang mengevaluasi (mengisi kuisioner?) adalah penyanyi jazz, dangdut, keroncong, sedangkan yang di-assess adalah….

penyanyi metal……

Bagaimana bisa mendapat skor yang dipercaya? Kata kepandaian di sini memang ada standarisasinya, tetapi justru karena standarisasi yang dijadikan sebagai kiblat (referensi) itulah, maka apakah ini berarti hal yang tidak sesuai dengan referensi dikatakan tidak cerdas?

Bagaimana misalnya dengan bakat menggambar?

gambarnya biasa saja, tetapi warna pohon hijaunya didapat dari campuran warna biru dan kuning, jadi ya cerdas (menurut saya)

imajinasinya hebat, jadi ya cerdas juga (menurut saya)

anjingnya tak sengaja menginjak cat air lalu menginjak kertas, yasudah jadikan saja lukisan…. tidakkah ini cerdas juga??

Untuk bisa mengevaluasi seberapa cerdas seseorang bisa menggambar / melukis misalnya, instrumen apakah yang seharusnya dipakai? Lalu, bagaimana dengan contoh di bawah ini? Apakah instrumen yang ada mampu mendeteksi kecerdasan visual orang tersebut, sebelum gambarnya selesai?

Lalu, bagaimana dengan gambar abstrak? Tentunya, seseorang yang cerdas bisa dianggap tidak cerdas bisa juga dikarenakan ketidak-kompetenan orang yang menilai. Misalnya saya, saya tidak mengerti apa bedanya salon yang lima puluh ribu dengan yang lima ratus ribu. Saya tahu, secara logika, salon yang lebih mahal pastilah mempekerjakan hair stylist yang lebih hebat (baca : cerdas di bidangnya), tetapi ya bagaimana lagi, saya memang tidak kompeten untuk menilai kecerdasan seorang hair-stylist. Saya hanya bisa ‘menaksir’ (bukan menilai) kecerdasan seorang hair stylist dari beberapa parameter / informasi, misalnya harga, belajar di mana, tingkat komplain, dll. Ya, tentunya penilaian saya akan tidak akurat, karena berdasarkan parameter tersebut, maka kesimpulannya adalah penatarias jenazah itu semuanya hebat, karena tidak ada yang komplain.

Bagaimana dengan Nicolaus Copernicus, penemu teori heliosentris? Pada saat itu, yang berlaku adalah teori geosentris (bumi adalah pusat tata surya), sedangkan Nicolaus Copernicus berpendapat sebaliknya, yaitu matahari sebagai pusat tata surya (teori heliosentris). Bagaimana orang pada waktu itu mengukur kecerdasan Nicolaus Copernicus ; mengingat ia dianggap sebagai orang gila yang mencoba menghasut kepercayaan orang awam?

Memang sekarang ilmu psikologi telah lebih maju, dan sepertinya mengembangkan metode / ‘instrumen’ untuk mengukur kecerdasan untuk tipe tertentu memang merupakan PR yang pastinya tidak mudah.

 

(3.) Karena Tidak Diberi Kesempatan

Ketika saya masih menjadi mahasiswa TPB, dosen Kalkulus saya itu tidak mau mengajar. Ia memang selalu datang tepat waktu (tidak seperti beberapa dosen lainnya), tetapi yaaaa….. tidak mengajar. Kerjanya tiap hari hanya curhat, tentang pemerintah. Curhat mengenai kesedihannya, bahwa ia merasa ditipu oleh Menristek (waktu itu B.J. Habibie) untuk balik ke Indonesia, tetapi ketika kembali ke Indonesia malah ‘hanya’ disuruh mengajar Kalkulus. Orang tersebut adalah peneliti nuklir (kalau tidak salah sub-spesialisasinya di fusi nuklir), dan ia telah berada entah di negara mana. Sekitar 4 bulan ia berada di Indonesia lalu kabur ke negara lain yang mampu dan mau mengapresiasi kemampuannya. Waktu itu, saya hanya melihat beliau sebagai orang yang tidak kompeten dan hanya ‘tukang curhar’, menjelek-jelekkan pemerintah. Ternyata justru karena ia terlalu pintar, jadinya terlihat bodoh. Kenapa? Karena tak diberi kesempatan (lebih tepatnya, fasilitas?) untuk ‘menunjukkan’ (mengaplikasikan) ilmunya.

Beberapa hal lainnya yang menyebabkan seseorang tidak dapat menunjukkan kecerdasannya adalah, tentu saja keterbatasan ekonomi. Banyak kesenian tradisional yang sudah terpinggirkan, tergilas oleh perubahan selera masyarakat atas nama modernisasi. Jaman sekarang, ondel-ondel hanya jadi pengemis, karena generasi sekarang hanya tahu BlackPunk.

kayaknya ada yang salah sama fotonya, ah yasudalah yah….

Saya tidak tahu apakah generasi sekarang tahu sama Kenny G atau tidak…. bagi yang tidak tahu, Kenny G itu adalah pemain saxophone,ya pokoknya termasuk dalam keluarga alat musik tiup lah yah….

Nah, ketika saya kecil, saya pernah melihat alat musik Betawi yang namanya tanjidor. Saya tidak pernah melihatnya lagi di jaman sekarang.

Pergeseran selera masyarakat menyebabkan para pemain tanjidor ini tidak dapat menggantungkan hidupnya dari kesenian ini. Saya memang tidak berbakat di kesenian (termasuk musik), tetapi saya percaya bahwa orang yang bisa memainkan alat musik ini adalah orang yang cerdas di bidangnya. Sayangnya, dunia itu keras. Kehidupan itu tidak bersahabat bagi yang kurang beruntung.

Baca Juga:  JUAL CABE BUBUK MURAH DAN BERGARANSI

Walau, ada sedikit alat musik Indonesia yang bisa go internasional, yaitu alat musik sasando dari Indonesia Timur (silahkan tanya mbah Google). Saya memang buta musik, tetapi di Indonesia ini adalah beberapa alat musik tradisional yang mungkin juga sudah terpinggirkan. Padahal, para pemain alat musik tersebut, ya pastilah orang cerdas.

Nah ini masih belum termasuk orang-orang yang seharusnya bisa menjadi atlet, membela nama Indonesia di kancah olahraga internasional. Orang-orang berbakat yang memiliki bodily-kinesthetic intelligence ini seringkali tidak dianggap oleh pemerintah. Kebetulan saya pernah mengajar di sekolah atlet juga walau hanya beberapa bulan, dan ada banyak curahan hati yang saya terima. Dari minimnya anggaran buat makanan [yang bergizi], dana minim untuk pembelian alat, uang transportasi bahkan akomodasi (penginapan) yang seringkali harus bayar sendiri, hadiah yang disunat, dll.

Atlet Terlantar, Ancam Laporkan KONI ke Dewan dan Polisi

Ini belum membahas masalah politik. Misalnya, orang dari Indonesia Timur sebenarnya memiliki potensi lebih untuk pembinaan atlet karena fisik mereka secara umum lebih kuat, tetapi seringkali yang diutamakan yang berasal dari Pulau Jawa. Belum lagi soal jaminan masa tua dari atlit. Berbeda sekali dengan negara lainnya yang memberikan Jaminan Hari Tua dalam bentuk pekerjaan dan tunjangan.

Nasib Mantan Atlet, Dipuja Ketika Jaya Merana di Hari Tua

Itu baru bicara tentang nasib atlet kita sendiri, bukan pemain asing kontrak. Pemain asing yang disia-siakan juga ada, bahkan ada pemain bola asing yang sampai meninggal karena tidak terima uang. Entahlah uang gajinya diambil siapa. Ada juga pemain asing asal Rusia yang terpaksa jadi penjual jus buah.

bagaimana bisa mengharapkan orang ini menunjukkan ‘kecerdasan permainannya’, jika untuk makan sehari-hari saja tidak ada uang?

Untunglah si Sergei Litvinov (pemain bola yang ada di foto) tidak sampai meninggal dan bisa [di]kembali[kan] ke Rusia dengan selamat, walau menjadi trauma dengan sepakbola. Kebayang kan, kalau sampai si Litvinov meninggal, sudah habislah kita dinuklir sama Rusia.

berita ada di sini :

Pernash Jual Jus, Begini Nasib Sergei Litvinov Sekarang

kirov, reporting…..!!!

Ya, dari sini bisa terlihat bagaimana orang dengan bodily-kinesthetic intelligence tidak dapat menunjukkan ‘kecerdasannya’ ya karena tidak adanya kesempatan [dan jaminan], terutama dari pemerintah. Giliran ada perusahaan swasta yang berbaik hati memberikan beasiswa bagi atlit sebagai perwujudan dana CSR, eh dilarang pemerintah karena produknya ‘haram’. Yasudalah, makin hilanglah kesempatan para [calon] atlit itu.

PB Djarum Pamit Hentikan Audisi, Akun KPAI Diserang Warganet

Penyebab lainnya dari mengapa kecerdasan menjadi tidak tampak adalah beratnya beban pekerjaan. Sepertinya sudah lazim di banyak perusahaan di Indonesia, namanya karyawan itu dipekerjakan bak romusha. Akibatnya, ide-ide kreatif yang seharusnya bisa dikomunikasikan menjadi tidak keluar. Padahal idenya ada banyak. Akhirnya jadi malas, ya kembali lagi ke atas. Mau usaha sendiri, tidak punya modal. Yasudalah, kepintarannya tidak akan terlihat, sehingga ya mereka akan tampak seperti ‘pekerja biasa’ saja.

Bisa juga karena seseorang dipekerjakan di bidang yang tidak sesuai. Katakanlah, seseorang yang baru lulus dari jurusan Bahasa Asing. Orang ini suka bahasa, tetapi ketika melamar kerja ternyata harus ada persyaratan dokumen ini dan itu. Mau melamar jadi penterjemah, eh ditanya sertifikat HSK. Ditambah lagi, lulusan baru ini belum berpengalaman (yaiyalah, kan baru lulus). Padahal kemampuan berbahasa itu tidak selalu harus dilihat dari sertifikat dan pengalaman, terkadang ada saja yang jago. Namun bagaimana lagi HRDnya tidak tahu Bahasa Mandarin, tahunya hanya kumaha damang. Jadi, bagaimana cara menguji kemampuan bahasanya? Ya tidak bisa diuji, HRD hanya bisa ‘melihat’ dari sertifikat / dokumen. Jadinya tidak lulus. Mau cari lowongan yang sesuai tidak ada, yang ada hanya lowongan admin. Ya karena butuh uang, yasudah apa boleh buat. Kerja sih kerja, tapi talentanya tidak terpakai. Sedih, tapi ya mau bagaimana lagi.

Belum lagi kalau membahas masalah birokrasi. Banyak sekali lah contohnya kalau ini. Dari pengalaman pribadi, saya percaya saya memiliki pengetahuan yang engga jelek-jelek amat tentang tanaman herbal. Nah tentu ketika saya ingin menjual produk saya, maka saya terbentur dengan banyak birokrasi yang menghambat. Birokrasi ini sangat menyita waktu, tenaga, dan….. uang. Yasudalah, akhirnya ‘produk’ saya tenggelam. Seperti itulah.

ya paling engga masih bisa berguna lah yah……

Atau bisa juga karena konstruksi sosial, maka ‘kecerdasan’ seseorang menjadi tidak menonjol. Contohnya ada di budaya kerja di perusahaan Jepun. Bahkan, di Jepun ada peribahasa yang berbunyi 出る杭は打たれる (déru kui wa utaréru) ; yang artinya paku yang timbul akan dipalu.

Artinya, ya jelas lah yah….. kalau jadi orang itu jangan menonjol. Intinya, konstruksi sosial yang tidak memberikan kesempatan untuk menunjukkan kepintarannya. Ketika saya bekerja di Jepun, saya tidak mengindahkan peribahasa ini, dan well……… ya gitu deh…… yasudalah, itu sudah masa lalu.

Baca Juga:  RESEP KUE CUBIT

 

(4.) Bersekolah

Sebenarnya, sekolah merupakan tempat yang dapat mematikan kreatifitas. Beberapa orang yang memiliki minat / kecerdasan di bidang seni, olahraga, bahasa, bersosialisasi, dll. tidak jarang ‘kecerdasannya’ dimatikan oleh kegiatan bersekolah. Saya tidak bermaksud untuk membujuk supaya tidak bersekolah, karena ini tidak baik juga. Hanya saja, jika membahas sistem pendidikan di Indonesia ini sungguh rumit, apalagi di sekolah swasta.

Sekolah swasta harus membiayai pengeluarannya sendiri. Akibatnya, sekolah harus terlihat hebat. Masalahnya, yang dianggap hebat secara umum adalah sekolah yang menghasilkan jago-jago akademik, yang prestasinya bisa dinyatakan dalam angka. Mengapa? Karena orangtuanya menghendaki demikian. Konstruksi sosial lagi. Tidak banyak orangtua yang mau menyekolahkan anaknya di sekolah yang mengajarkan muridnya untuk berempati (setahu saya, ada sekolah Buddhist dan sekolah Kristen yang fokus di sini), karena orangtua berpikir tidak ada gunanya.

Padahal, setiap murid itu memiliki minat dan bakatnya masing-masing. Sayangnya, karena [kebanyakan] sekolah swasta itu berorientasi mencari keuntungan, maka ya tentunya tidak semua bakat dan minat siswa bisa diakomodasi. Juga, guru akan memiliki jam mengajar tinggi, sehingga guru hanya peduli dengan target pengajaran saja ; sudah tidak punya waktu untuk berimprovisasi atau memikirkan bagaimana membantu mengembangkan bakat & minat siswa-siswinya. Boro-boro mikirin, gaji aja dikurangin……

jadi mirip kage-bunshin milik si Naruti…

Idealnya sih, sekolah harusnya memiliki kiblat untuk mendidik muridnya secara komphrehensif. Di sekolah mahal, ya mereka menerapkan kurikulum STEM bahkan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics). Nah, masalahnya, tidak semua guru memiliki kualifikasi seperti ini, apalagi yang bisa mengajarkan sesuatu secara terintegrasi. Ya, sekarang bagaimana cara seorang guru Matematika mengajarkan permutasi-kombinasi untuk murid yang tertarik menjadi fashion designer, atau mengajarkan matriks kepada murid yang ingin jadi chef. Pusing kan? Padahal, sekolah pendapatannya menurun karena murid banyak yang keluar karena COVID-19, sehingga beberapa guru di-PHK. Guru yang ada harus meng-cover pekerjaan guru yang keluar tadi, sehingga jam kerja naik padahal gaji turun. Gurunya stress, akhirnya ‘kecerdasan’ gurunya juga tidak keluar, sehingga tidak bisa mengakomodasi bakat & minat muridnya. Yasudah, terima aja lah yah…

FYI, ada lagi yang namanya pendidikan holistik. Yaitu mengintegrasikan STEAM di atas dengan unsur SQ. SQ ini kalau di Indonesia ya berarti berhubungan dengan unsur religius (agama), meskipun makna aslinya harusnya lebih luas lagi.

https://www.gardaoto.com/blog/mengenal-apa-itu-pendidikan-holistik

(5.) Lainnya

Ya karena ada berbagai tipe kecerdasan, maka tentunya saya berpendapat bahwa EQ itu juga merupakan suatu tipe kecerdasan. Saya bukan ahli psikologi, tapi asumsi saya adalah EQ ini berhubungan dengan interpersonal intelligence. Ya kalau saya salah mengambil asumsi, ya mohon dimaafkan.

Seseorang yang [tadinya] memiliki interpersonal intelligence yang tinggi mungkin saja kehilangan ‘kecerdasannya’ ini karena stress (setiap hari kena macet 5 jam untuk pergi / pulang ngantor, beban kerja yang berat, masalah finansial yang tinggi, dll). Nah, tapi, seseorang dengan EQ tinggi seharusnya masih tetap me-manage level emosinya sampai dalam batas tekanan tertentu lebih baik daripada orang lain, sehingga masih bisa memiliki interpersonal intelligence yang baik.

Kemampuan membina relasi yang baik inilah yang saya rasa penting di jaman ini. Tetapi, beberapa hal seperti ‘terlalu hitungan untung-rugi’ atau bahkan ‘maunya untung terus’ akan membuat seseorang kehilangan sebagian interpersonal intelligence-nya walaupun secara EQ mungkin masih baik. Ini pendapat saya pribadi sih….

di jaman sekarang, memiliki interpersonal intelligence yang baik itu akan sangat membantu

Kecerdasan Finansial

Waduh, saya ini psikolog juga bukan, berani-beraninya bikin tipe kecerdasan baru. Bisa diberikan sambitan yang meriah sama Ibu Yeyen nantinya…. Entahlah, masalahnya di media, kata ini sudah sering muncul, walaupun terjemahan Bahasa Inggrisnya (financial intelligence) maknanya berbeda dengan makna kata dalam Bahasa Indonesianya. Singkatnya, kecerdasan finansial adalah kemampuan untuk mengatur keuangan. Ada beberapa hal yang menyebabkan hilangnya kecerdasan finansial, tetapi dalam satu kalimat, penyebabnya adalah karena masuk ke dalam zona nyaman.

Menariknya adalah, semua tipe kecerdasan lainnya bisa ‘hilang’ atau tenggelam atau menjadi tidak terlihat karena kekecewaan, pembatasan, konstruksi sosial, kurang dihargai, tekanan kerja, stress, dll. yang jika dirangkum dalam satu kata yaitu ketidaknyamanan ; kecerdasan finansial ini justru bisa menjadi tumpul jika orang tersebut mengalami / merasakan hal yang disebut kenyamanan.

>>>>>

Kesimpulan :

(1.) Mengukur kecerdasan itu tidak mudah ; terlebih kini ada berbagai macam tipe kecerdasan

(2.) Beberapa hal yang dapat menyebabkan kecerdasan menjadi tidak terlihat :

  • instrumen / metode untuk mengukur kecerdasan tidak / belum mampu untuk mengenali kecerdasan seseorang
  • orang yang menilai memang tidak kompeten karena bukan bidangnya
  • karena ybs. memang tidak mau atau merasa tidak perlu memperlihatkan kecerdasannya
  • kecewa
  • tidak diberi ruang / kesempatan
  • stress
  • bidang dan / atau beban kerja yang tidak sesuai
  • birokrasi
  • konstruksi sosial
  • merasa berada pada zona nyaman

Demikianlah jawaban yang bisa saya tulis, berdasarkan apa yang saya pahami. Mohon maaf jika sekiranya apa yang saya pahami ternyata berasal dari ajaran sesat. Terima kasih telah berkenan meluangkan waktunya untuk membaca ini. Maaf jika ada kesalahan penulisan atau pemilihan kata yang kurang berkenan.

Anda termasuk yang mana?

Berikan komentarmu.